Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Serial Novel yang diExpresikan

Written By kolimtiga on Senin, 02 April 2012 | 15.54

serial Novel yang diexpresikan Sekali isep, gadis yang Tuan impikan muncul di hadepan Tuan," begitu iklan berkalimat nakal yang bukan satu-satunya "kenakalan" dalam novel "Gadis Kretek".

Itu adalah iklan terbaik Idroes Moeria, pengusaha rokok yang pesaingnya; Djagad, selalu membututinya dalam berbisnis setelah kalah bersaing mendapatkan gadis bernama Roemaisa.

Bukan apa-apa, ketika Idroes Moeria mengajak pengisap rokok berfantasi tentang perempuan muda dan cantik, Djagad malah membuat iklan untuk rokok barunya dengan kalimat "Kretek Garwo Kulo, kreteknya lelaki yang cinta istrinya".

Garwo Kulo jatuh di pasaran, demikian novel itu, karena kretek tersebut justru mengingatkan para lelaki untuk selalu ingat akan istri di rumah yang mungkin jarang dandan, pakaiannya kedodoran, dan cerewet.

Kenakan yang tak murahan, tentu saja, karena cerita penulis kelahiran 1980 itu tampil jauh dari sebuah novel pop; banyak dirincian dengan latar belakang sosial, budaya, dan politik yang jauh di belakang masa hidup penulisnya.

Iklan di awal tulisan ini adalah bikinan seorang pengusaha rokok rumahan di sebuah kota bersebut M.  Rokok laris itu akhirnya rontok setelah pengusahanya ditangkap dalam huru-hara di zaman PKI.

Puncak kenakalan sang penulis novel tersaji ketika dia bercerita soal keabu-abuan prahara 1965 yang membuat pengusaha rokok sukses, yang tidak ada sangkutpautnya dengan PKI, tiba-tiba harus diberangus.

Pengusaha rokok tenar itu ditangkap, disiksa, dan dinterogasi karena kemasan rokoknya berwarna merah; warna PKI, dan konsep undangan pernikahan anaknya ditemukan di sebuah percetakan yang kerap mencetak juga keperluan-keperluan PKI.

Cerita tragedi dan romantisme dalam novel itu sebenarnya bermula ketika seorang bernama Raja (baca: Raya) mengisap kretek hasil lintingan Jeng Yah.

Jeng Yah memiliki rahasia ramuan Kretek Gadis, yaitu rasa manis berkat air ludahnya yang dipakai untuk merekatkan lintingan pembungkus tembabau dan cengkeh. Tingwe, rokok yang dilinting sendiri, buatan Jeng Yah, membuat orang ketagihan.

Awalnya, ayahnya, pengusaha rokok ternama, yang ketagihan. Kemudian rekan-rekan bisnis yang diharapkan menjadi pemodal juga tertarik pada cita rasa rokok lintingan Jeng Yah. Juga sang kekasih.

Hubungan Jeng Yah dengan kekasihnya inilah yang kemudian menjadi sebuah romantisme tragis yang menjadi benang merah beragam cerita dalam novel ini.

Misteri hubungan dua manusia itu menjadi pertanyaan besar bagi sebuah keluarga pengusaha rokok ternama yang kesuksesannya meninggalkan Kretek Gadis yang hanya menjadi rokok kalangan tua di sebuah kota kecil. Misteri yang ingin dipecahkan oleh generasi ketiga pengusaha rokok kretek itu.

Pencarian Jeng Yah oleh kakak beradik ahli waris perusahaan rokok ternama itu membawa mereka bertualang ke dunia bisnis kretek, dari zaman kolonial Belanda, Jepang, hingga zaman PKI.

Bagai sebuah buku sejarah, novel itu juga bercerita tentang bagaimana popularitas rokok klembak memudar digantikan rokok kretek.

Pencarian itu juga memperlihatkan bahwa beragam rokok kretek "jago kandang" terus bertahan di tengah dominasi perusahaan rokok besar.

Kebertahanan itu juga sering terjadi bukan karena rokok lokal itu tetap memberi pengusahanya keuntungan, melainkan demi gengsi leluhur dan kepentingan pekerjanya.

Itu misalnya diwakili oleh kalimat: "Kalau pabrik ini mati, maka orang-orang ini akan nganggur, ndak bisa makan, ndak bisa nyekolahin nak-anaknya, mereka jatuh miskin. Kamu mau kejadian kayak gitu?

Tentu saja ini juga bagian kenakalan Gadis Kretek bila diingat bahwa bisnis rokok kini dihadapkan pada kenyataan bahwa: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Padahal rokok kretek mulanya dibuat untuk membantu para penderita asma meringankan napasnya.

Kenakalan dalam novel karya Ratih Kumala, Gramedia Pustaka Utama, Maret 2012, ini juga sudah tampil lewat judul dan gambar sampulnya.

Sampul yang memajang gambar perempuan berkebaya hijau, dengan sebatang rokok menyala beserta asapnya yang mengepul, seolah mengajak orang di toko buku untuk segera mengambilnya serial Novel yang diexpresikan
15.54 | 0 komentar | Read More

Meninggkatkan Teknologi PerFilman

Meninggkatkan Teknologi PerFilman Jakarta (ANTARA News) - Cadangan batu bara Indonesia yang sebagian besar berkualitas rendah bisa ditingkatkan kualitasnya dengan teknologi pengering Steam Tube Dryer (STD).

Di sela lokakarya tentang STD di Jakarta, Kamis, perwakilan perusahaan pengembang teknologi itu bekerja mengurangi kadar air batu bara dengan sistem pemanasan.

"Karena batu bara yang dikeringkan ini akan meninggalkan pori-pori yang besar dan mudah terbakar jika bersentuhan dengan udara, maka harus langsung digunakan, artinya STD sepanjang 40 meter ini harus ditempatkan dekat PLTU," kata Managing Executive Officer Tsukishima Kikai Co, Koji Miwa.

Tapi jika batu bara yang ditingkatkan kadar kalorinya akan diekspor maka perlu ada proses lanjutan berupa yakni menutupnya dengan tar kemudian ditekan, kata dia.

Menurut Deputi TI, Energi, Material, Lingkungan pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto teknologi itu sudah diujicoba di Puspiptek Serpong dan terbukti bisa meningkatkan kandungan kalori batu bara dari 4.000 Kkal per kilogram menjadi 6.000 Kkal per kilogram.

Ia menjelaskan, batu bara yang sudah ditingkatkan kualitasnya bisa digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan pembakaran yang efisien, bersih dan ramah lingkungan.

"Karena membakar batu bara muda di PLTU menurunkan efisiensi. Pengalaman operasi sejumlah PLTU baru dalam program 10.000 MW menunjukkan adanya penurunan kapasitas yang signifikan bila dioperasikan dengan batubara berkalori di bawah 4.800 Kkal per kilogram," katanya.

Ia menambahkan, STD berkapasitas 500 ton per jam seharga sekitar 50 juta dolar AS per unit sudah digunakan di tiga lokasi PLTU di Korea.

"Teknologi ini bisa jadi solusi bagi PLN yang selama ini hanya mendapat pasokan batubara muda, berhubung 35 persen cadangan batubara berkualitas baik kita diekspor," kata Dirjen Mineral dan batubara Kementerian ESDM Thamrin Sihite Meninggkatkan Teknologi PerFilman
15.50 | 0 komentar | Read More

Film Modern Semakin Berkualitas

Film Modern Semakin Berkualitas
film Modern Semakin berkualitas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, mengatakan bahwa film hasil produksi Indonesia harus terus berkualitas terlebih untuk saat ini jumlah produksi film dalam negeri terus meningkat.

Bukan hanya produksi film Indonesia yang terus meningkat, namun kualitasnya juga harus ditingkatkan, kata Mari Pangestu, seusai menyaksikan pemutaran film perdana "The Raid," di Jakarta, Kamis malam.

Mari Pangestu mengatakan bahwa perkembangan industri perfilman di Indonesia sudah cukup baik, dan pada tahun 2011 lalu ada kurang lebih sebanyak 82 film produksi dalam negeri.

"Untuk saat ini sebanyak satu per tiga dari film yang beredar di bioskop Indonesia adalah film dari dalam negeri, dan angka tersebut lebih baik daripada tahun 2004 yang hanya berkisar sepuluh persen dari film yang beredar," tambah Mari Pangestu.

Mari Pangestu juga mengharapkan akan ada perluasan penyebaran bioskop-bioskop khususnya untuk di wilayah yang hingga saat ini masih belum dijangkau oleh bioskop yang sudah beroperasi agar dunia perfilman Indonesia bisa semakin baik.

"Ke depannya, dunia perfilman Indonesia harus semakin cerah, karena pasar yang ada di dalam negeri sendiri akan terus meningkat dan merupakan potensi yang sangat besar," katanya.

Sebagai salah satu contoh, lanjut Mari Pangestu, film The Raid hasil produksi dari Merantau Films akan beredar di dunia internasional karena sudah dibeli oleh rumah produksi Sony Pictures dan diharapkan akan mendapatkan pengakuan atas kualitas dari film tersebut.

"Film The Raid tersebut sangat luar biasa, dan saya mengharapkan dengan mulai diputarnya film tersebut di biosko-bioskop yang ada akan bisa mengangkat nilai dari seni beladiri pencak silat," kata Mari Pangestu.

Mari Pangestu menambahkan bahwa dengan adanya unsur pencak silat dalam film The Raid tersebut diharapkan dapat memperkenalkan seni bela diri asal Indonesia itu seperti yang terjadi pada seni bela diri asal China, Kung Fu.

"Seni bela diri Kung Fu mulai dikenal dunia saat dituangkan dalam film yang dimainkan oleh Bruce Lee, Enter The Dragon, dan saya harapkan The Raid juga bisa semakin dikenal di dunia internasional," kata Mari Pangestu.

Film The Raid tersebut menceritakan tentang satu kelompok polisi elit yang menjalankan misi untuk menangkap seorang raja narkotika bernama Tama, namun, penggerebekan tersebut tidak berjalan sesuai rencana dan mengancam keselamatan para anggota dari satuan polisi elit tersebut.film Modern Semakin berkualitas
15.48 | 0 komentar | Read More

Maraknya Penyiaran Film asing

Maraknya Penyiaran Film asing Ketua Umum FFB Eddy Iskandar menyatakan puisi dipilih sebagai medium kritik terhadap kondisi perfilman sekarang karena lebih jujur dan jernih dalam menyuarakan pandangan.

"Ada kemarahan, ada kekhawatiran, tapi ujungnya ada optimisme," katanya.

Eddy berharap, kritik dengan berpuisi menggugah pelaku perfilman Indonesia. Buku "Puisi Film" 94 halaman berbandrol Rp25 ribu itu dibagikan kepada insan-insan perfilman Indonesia.

"Dengan puisi diharapkan kritik yang disampaikan lebih menggugah, juga bisa menjadi cara yang tepat untuk mendidik masyarakat agar menyukai film yang berkualitas," kata Eddy.

Berpuisi adalah cara baru yang dipilih FFB dalam melayangkan kritik terhadap perfilman Indonesia yang kini didominasi horor dan adegan "syur".

Selanjutnya, FFB berencana menampilkan monolog sebagai cara lain mengkritik perfilman Indonesia.

Pendiri Sinematek Indonesia H. Misbach menulis di sampul depan buku "Puisi Film" yang diterbitkan sendiri oleh FFB itu: "Saya orang yang menghargai idealisme. Dan saya juga senang karena FFB tetap menghargai idealisme itu. Saya harap FFB tetap bertahan untuk menilai film dan insan film berdasarkan kualitas mereka, bukan berdasarkan pasar".

Saat ini, menurut Eddy, FFB tengah menyeleksi sekitar 70 film bioskop dan ratusan sinetron televisi yang ditayangkan pada kurun 2011-2012.

"Hanya film yang mengedepankan kearifan lokal yang pantas mendapatkan penghargaan dari FFB," ujarnya.

Pada usia 25 tahun penyelenggaraannya, FFB mendapatkan kado istimewa berupa perhatian berskala nasional. Sebuah televisi swasta nasional berniat menayangkan secara langsung acara puncak penghargaan yang akan berlangsung pertengahan April 2012 itu.

Eddy berjanji publikasi secara nasional tidak akan melunturkan idealisme FFB yang konsisten menilai film-film Indonesia dalam 25 tahun berjalan ini.

"Bukan kami yang meminta ditayangkan secara langsung. Televisi swasta itu yang justru meminta karena FFB dianggap layak untuk disiarkan secara nasional. Mereka hanya meliput peristiwanya saja, tapi tidak mempengaruhi penilaian kami," tuturnya.

FFB yang dibentuk kelompok kecil pencinta film di Bandung hanya ingin menyampaikan apresiasi dan kritik jujur terhadap perfilman Indonesia tanpa berpretensi, kata Eddy lagi

Karena itu, segala aktivitas mereka dikemas spontan dan apa adanya seperti terlihat di atas panggung sepi pada peluncuran buku "Puisi Film" itu, namun mereka yang menghadirinya berharap suara sepi itu suatu saat menembus dinding gedung.
15.47 | 0 komentar | Read More

Drama perFilman Modern

Drama perFilman Modern Sebuah panggung sepi mengumandangkan puisi "Masih Bayangan" karya sutradara senior Nobertus Riantiarno di Gedung Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung,

Sekitar seratus penonton langsung hening menyimak suara lantang Ketua STSI Bandung Endang Caturwati yang berdiri sendirian di atas pentas untuk memperingati 25 tahun Festival Film Bandung (FFB) itu.

"Berawal dari inspirasi//sumbernya bulan dan matahari/ kemanusiaan jadi tujuan/ kesenian adalah jalan//lalu eksperimentasi//kerja tak kenal henti//tapi setelah keberhasilan diraih//perubahan bisa terjadi//seni menjadi komoditi//menyusul pula politik".

"Entah mengapa tega//mengotori layar putih//dengan kumpulan jargon//slogan-slogan tanpa makna//janji-janji belaka//lalu belenggu aturan//sensor mencekik pula//pembinaan yang diniatkan//jadi hantu pembinasaan//politik kekuasaan".

Puisi Riantiarno itu adalah salah satu karya yang termuat dalam buku bertajuk "Puisi Film". Buku ini diterbitkan FFB untuk menandai 25 tahun usianya.

Bersampul merah pertanda perlawanan, buku itu merangkum 25 puisi karya 25 seniman dari berbagai latar belakang.

Selain Riantiarno, mereka yang menyumbang puisi antara lain seniman kondang Putu Wijaya, aktor dan sutradara kawakan Slamet Rahardjo, penulis skenario Armantono, dan Ketua Umum FFB Eddy D. Iskandar yang novelnya "Gita Cinta dari SMA", sukses diangkat ke layar lebar.

Dengan lugas dan jernih, para seniman itu menyuarakan pandangannya mengenai kondisi perfilman Indonesia saat ini.

Slamet Rahardjo bahkan hanya memerlukan waktu satu hari untuk melahirkan puisinya yang pertama berjudul "Dendang Perawan".

"Puisi itu lahir begitu saja secara spontan berdasarkan kondisi yang saya ketahui saat ini," ujarnya.

Dengan keahliannya berseni peran, Slamet tampil menawan menyairkan puisi itu di panggung.

"Lingsir wengi//dendang perawan malam hari//wing semriwing//semerbak wangi dupa setanggi//mimpi di atas mimpi//melayang aku pengen jadi bidadari//oh harapan muara keinginan//beken di atas beken//geregetan aku berkhayal jadi keren//eh siapa tahu//coba punya coba//bisa lebih dari penganten".

"Ning nang ning gung//dendang seribu peri di lembah gunung//oh para peri dunia perewangan//dengan kuasamu bawalah aku terbang//eh siapa nyana//bisa salaman sama dewa//dewa sakti bernama ketenaran".

Puisi kocak itu dibawakan Slamet dengan menggelitik, namun tegas menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi perfilman Indonesia yang dinilainya telah kehilangan unsur kontemplasi.

"Seni peran itu bukan cuma dilakoni, tapi harus dihidupi," kata peraih lima Piala Citra itu.

Menurut Slamet insan perfilman Indonesia kini cenderung ingin mengikuti trend global tanpa mengindahkan budaya nasional.

Pesan serupa disampaikan seniman Nenden Lilis A.

Dalam puisinya bertajuk "Episode Layar" dia bersanjak, "Jangan dengarkan dia//jika mau, industri bisa untuk tidak hanya melenakan masyarakat dan menguntit selera pasar//demi mengeruk keuntungan//industri bisa menciptakan karya yang mencerahkan sukma anak negeri!//seru yang lain dari dalam koran".

"Lalu, suara siapa itu//bagai dibawa angin dari bukit yang jauh//menyuruh selalu berkemas dan berbenah//tetapi kemudian//inilah yang masih terjadi: pada sebuah gedung sinema//bukan kacang dan bajigur teman menonton//tapi hot chocolate dan popcorn//yang harganya tak terjangkau mimpi orang pinggiran//di loket diam-diam kuhitung orang mengantri//berapa orang yang memilih film sendiri//ternyata lebih banyak untuk sinema luar negeri".

Lalu Iman Soleh, dalam puisinya berjudul "Ode Untuk Sandek", mengkritik film yang tidak lagi berpijak pada kondisi sosial yang nyata.

"Apakah kemiskinan kami//kelaparan kami//bisa diwakili kesenian kamu//nyanyian kamu//teriak waska//si pesolek terdiam//laiknya intelektual frustasi//di kota ini jiwa menjadi badut//buruh-buruh dibungkam mimpi//perguruan tinggi tak punya visi//kepalsuan diagungkan//tak ada kesenian//tak ada puisi".

Namun, dosen STSI Bandung dan pendiri Studiklub Teater Bandung itu masih menyimpan optimisme di ujung bait puisinya.

"Sandek kembali menanam harapan//ketimpangan berbuah gugatan//pada kamera dia bekerja//melukis lewat kata: `Bangunlah orang-orang tidur!" ujarnya//dia acungkan pena ke langit//menentang bapaknya di pasar modal//camkan waska!//kesenian adalah perlawanan//pada ketidakadilan//pada kegagahan uang//meski impian sulit hilang//karena hidup bukan sekedar: "dagang atau daging". Drama perFilman Modern
15.45 | 0 komentar | Read More